Selasa, 02 Desember 2008

Pengkaderan Pada Parpol

Proses pengkaderan atau kaderisasi yang dilakukan oleh parpol terhadap anggota partai calon kader merupakan kelanjutan dari fungsi parpol, yaitu fungsi edukasi (pendidikan) dan fungsi rekrutmen. Parpol sejatinya dalam menjalankan fungsi pendidikan politik tidak boleh pilih kasih—hanya kepada anggota saja—tetapi juga kepada semua warga negara. Namun demikian fungsi pendidikan politik tetap dijalankan oleh internal parpol sebagai kelanjutan dari fungsi rekrutmen, dimana parpol setelah merekrut individu-individu dari masyarakat menjadi anggota akan memberikan pendidikan politik.
Setiap anggota parpol belum tentu otomatis menjadi kader partai. Bagi anggota yang tertarik untuk menjadi kader partai, terlebih dahulu haruslah mengikuti proses seleksi untuk menjadi kader. Kemudian setelah lulus seleksi, anggota tersebut harus mengikuti proses pengkaderan yang dilakukan oleh parpol dalam rangka pelaksanaan fungsi pendidikan politik. Selama mengikuti proses pengkaderan, calon kader itu akan mendapatkan pendidikan politik kader.
Pendidikan politik kader bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader sebagai calon pelanjut kepemimpinan partai dan kehidupan organisasi. Pendidikan politik lebih berorientasi kepada pemantapan dan pengembangan program partai. Pendidikan ini lebih bersifat memelihara mekanisme demokrasi yang diklasifikasikan ke dalam tiga jenjang, yaitu:
1. Jenjang pertama pendidikan diarahkan untuk:
(a) pemahaman arti berorganisasi,
(b) menanamkan loyalitas terhadap organisasi,
(c) memantapkan dedikasi.
Jenjang ini biasanya diperuntukkan bagi kader pemula.
2. Jenjang kedua pendidikan diarahkan untuk:
(a) membuka wawasan berpikir yang berdasar ideologi partai,
(b) menumbuhkan dinamika dan kreativitas dalam pengembangan organisasi,
(c) meningkatkan kualitas pengelolaan organisasi
Jenjang ini diperuntukkan bagi kader madya.
3. Jenjang ketiga pendidikan diarahkan untuk:
(a) membentuk sumber insani organisasi yang memiliki kemampuan konseptual,
(b) membidik cara berpikir sistematis dan strategis,
(c) membidik agar memiliki kemampuan menganalisis peristiwa-preistiwa politik dan cara mengantisipasinya,
(d) mendidik berpikir futuristic.
Jenjang ini diperuntukkan bagi calon-calon politisi.

Tidak ada komentar: